23 Oktober 2007

Potret Sukses Konservasi Bangunan Tua

Contoh sukses konservasi bangunan bersejarah adalah pemugaran gedung arsip nasional yang sering disebut di berbagai media sebagai sebuah konsep konservasi bangunan yang berhasil. Kesuksesannya terletak pada tampang bangunan yang tetap bertahan sebagaimana pertama kali berdiri. Selain itu juga keberhasilannya dalam membebaskan gedung ini dari genangan air. Bahkan ketika banjir besar yang melanda Jakarta pada 2001, gedung ini tidak ikut tenggelam.

Salah satu arsitek konservasinya, Budi Lim berhasil menerapkan konsep penanganan banjir secara sederhana. Karena bangunan ini terletak sekitar 1,2 meter lebih rendah dari jalan dan dari Sungai Ciliwung, maka yang harus dilakukan adalah bagaimana mengalirkan air yang tergenang dalam bangunan, keluar. Sang perancang membuat penampungan air, dan memasang pipa-pipa berdiameter besar untuk mengalirkan air dari tapak ke sungai yang berada tepat di sisi jalan, hingga tak ada lagi masalah dengan genangan air.

Itu lah kenapa konservasi bangunan ini pernah meraih penghargaan dari Unesco Asia Pacific Awards for Culture Heritage Conservation pada tahun 2001. Tidak tanggung-tanggung sebuah Award of Excellence predikat tertinggi ajang penghargaan ini berhasil dikantongi oleh gedung yang menawan ini. Kita patut bnagga terhadap keberadaan gedung ini, karena pertama kalinya bangunan konservasi di Indonesia meraih predikat tertinggi Unesco.

Kejelian sang arsitek dalam mempelajari setiap detail, nilai sejarah dan arsitekturalnya, menghasilkan rancangan yang justru mempercantik bangunan awalnya. Salah satu contohnya adalah keberadaaan sebuah detail yang menarik pada bangunan sayap. Detail itu berwujud sebuah sosoran beratap timah dengan penyangga berupa logam. Elemen ini merupakan elemen baru yang ditambahkan pada saat perbaikan, sebagai penyelesaian arsitek atas iklim tropis yang ada di Indonesia. Meski baru, namun kehadirannya dapat menyatu dan menciptakan harmoni dengan keseluruhan bangunan.

Keberhasilan sebuah konservasi adalah tanggung jawab bersama adalah prinsip yang diterapkan oleh bangunan yang dulu adalah tempat peristirahatan ini. Untuk itu, pengelola gedung ini tidak tinggal diam dengan berusaha mencukupi sendiri dana pemeliharaan bangunan, dengan menyewakannya untuk berbagai acara, seperti seminar, pameran, bahkan resepsi pernikahan. Kegiatan ini mampu menghasilkan cukup dana untuk kebutuhan pemeliharaan bangunan. Rasanya Award of Excellence dari Unesco memang pantas diraih bangunan ini.


Tidak ada komentar: