22 Oktober 2007

bangunan penyebab utama global warming

Arsitektur memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global atau yang akrab di telinga kita dengan istilah gobal warming. Data dari ASEAN Center for Energy (ACE) 48% pemanasan global dihasilkan oleh bangunan. Saat pembangunan gedung terutama gedung bertingkat, banyak sekali dilepaskan gas Carbon Monoksida (CO) ke udara, apalagi bangunan yang mengaplikasikan sistem struktur beton.

Setelah bangunan berdiri, konsumsi listriknya juga membutuhkan banyak sekali energi, terlebih saat ini hampir tidak ada bangunan bertingkat yang tidak menggunakan AC. Belum lagi tampang gedung bertingkat saat ini yang marak menggunakan kaca untuk tampilan luarnya. Sebagaimana yang kita ketahui, kaca justru akan mamantulkan kembali panas matahari yang diterima. Belum lagi gedung-gedung bertingkat yang membutuhkan penerangan maksimal, dengan menyalakan lampu sejak pagi.

Maraknya pembangunan juga menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau sebagai sumber penyerap gas carbon dioksida. Padahal sebatang pohon bisa menyerap 1 ton CO2 selama hidupnya. Bisa dibayangkan berapa ribu ton yang bisa diserap dalam 100 meter persegi lahan.

Saat ini di dunia sedang digalakkan pembangunan yang hemat energi. Bahkan di Amerika Serikat, arsitek yang merancang bangunan harus melalui uji kelayakan hemat energi untuk setiap karyanya. Bahkan untuk karya arsitektur tertentu harus memenuhi kriteria sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan.

Banyak yang bisa dilakukan oleh para perancang bangunan untuk menghemat enrgi. Salah satunya adalah dengan memilih lamu yang hemat energi. Lampu TL bisa
menghemat pengeluaran 150 pound gas karbon dioksida per tahun, dibanding lampu pijar. Perancangan bangunan dengan memanfaatkan alam dan iklim yang ada, seperti contoh, di Indonesia yang hampir memperoleh sinar matahari sepanjang tahun, bisa menggunakannya sebagai pengganti penerangan di siang hari.

Menjaga bumi tempat kita tinggal agar tetap lestari memang harus kita mulai dari sekarang, dari diri sendiri. Kalo tidak entah berapa generasi lagi kita bisa melihat bumi ini tetap indah.

Tidak ada komentar: