23 Oktober 2007

Aku Mengiri

Aku mengiri pada malam

Yang selalu diiringi fajar untuk menerangi gulitanya

Aku mengiri pada laut

Yang memiliki pantai untuk melabuhkan gelombangnya

Aku mengiri pada kemarau

Yang menanti hujan untuk menyejukkan kerontangnya

Aku mengiri pada bulan dan matahari

Yang dengan setia berbagi cahaya untuk menerangi bumi

Aku mengiri.......

Tak ada yang mengiringi

Tak ada yang memiliki

Tak ada yang dinanti

Tak ada tempat berbagi

Aku mengiri....

Karena aku lelah, selalu sendiri

Palmerah, 16 Juni 2007

Sebait Tanya untuk Nya

Apakah benar manusia di dunia ini

selalu Kau ciptakan berpasangan?

Jika ya...

Tidakkah Kau lupa menciptakan satu untukku?

Jika Tidak...

Berapa lama lagi aku harus menunggu?

Kenapa hingga 28 tahunku berlalu

Tak jua ku bertemu?

Potret Sukses Konservasi Bangunan Tua

Contoh sukses konservasi bangunan bersejarah adalah pemugaran gedung arsip nasional yang sering disebut di berbagai media sebagai sebuah konsep konservasi bangunan yang berhasil. Kesuksesannya terletak pada tampang bangunan yang tetap bertahan sebagaimana pertama kali berdiri. Selain itu juga keberhasilannya dalam membebaskan gedung ini dari genangan air. Bahkan ketika banjir besar yang melanda Jakarta pada 2001, gedung ini tidak ikut tenggelam.

Salah satu arsitek konservasinya, Budi Lim berhasil menerapkan konsep penanganan banjir secara sederhana. Karena bangunan ini terletak sekitar 1,2 meter lebih rendah dari jalan dan dari Sungai Ciliwung, maka yang harus dilakukan adalah bagaimana mengalirkan air yang tergenang dalam bangunan, keluar. Sang perancang membuat penampungan air, dan memasang pipa-pipa berdiameter besar untuk mengalirkan air dari tapak ke sungai yang berada tepat di sisi jalan, hingga tak ada lagi masalah dengan genangan air.

Itu lah kenapa konservasi bangunan ini pernah meraih penghargaan dari Unesco Asia Pacific Awards for Culture Heritage Conservation pada tahun 2001. Tidak tanggung-tanggung sebuah Award of Excellence predikat tertinggi ajang penghargaan ini berhasil dikantongi oleh gedung yang menawan ini. Kita patut bnagga terhadap keberadaan gedung ini, karena pertama kalinya bangunan konservasi di Indonesia meraih predikat tertinggi Unesco.

Kejelian sang arsitek dalam mempelajari setiap detail, nilai sejarah dan arsitekturalnya, menghasilkan rancangan yang justru mempercantik bangunan awalnya. Salah satu contohnya adalah keberadaaan sebuah detail yang menarik pada bangunan sayap. Detail itu berwujud sebuah sosoran beratap timah dengan penyangga berupa logam. Elemen ini merupakan elemen baru yang ditambahkan pada saat perbaikan, sebagai penyelesaian arsitek atas iklim tropis yang ada di Indonesia. Meski baru, namun kehadirannya dapat menyatu dan menciptakan harmoni dengan keseluruhan bangunan.

Keberhasilan sebuah konservasi adalah tanggung jawab bersama adalah prinsip yang diterapkan oleh bangunan yang dulu adalah tempat peristirahatan ini. Untuk itu, pengelola gedung ini tidak tinggal diam dengan berusaha mencukupi sendiri dana pemeliharaan bangunan, dengan menyewakannya untuk berbagai acara, seperti seminar, pameran, bahkan resepsi pernikahan. Kegiatan ini mampu menghasilkan cukup dana untuk kebutuhan pemeliharaan bangunan. Rasanya Award of Excellence dari Unesco memang pantas diraih bangunan ini.


Bangunan Tua, Warisan Arsitektur Kota yang Berpolemik

Berbicara tentang bangunan tua memang tidak akan pernah selesai. Tema ini selalu memunculkan polemik dari berbagai kalangan. Merawat bangunan-bangunan tersebut sebagai warisan bangsa bukan perkara mudah apalagi murah, bahkan seringkalai memakan waktu lama.

Tak sedikit usaha yang telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Hasilnya, sampai saat ini kita masih bisa menemukan beberapa bangunan tua berdiri indah di sekitar kita. Meski karena banyaknya masalah, tak jarang keputusan tak bertanggungjawab diambil, untuk merobohkan bangunan yang banyak mengandung nilai sejarah perkembangan sebuah kota tersebut.

Salah satu kasus pembongkaran yang terjadi, menimpa Pasar Johar Semarang, karya arsitektur masterpiece dari Thomas Karsten, salah satu arsitek terkenal Belanda selain Mclaine Pont. Isu tentang pembongkaran pasar terbesar di Kota Semarang ini sebenarnya sudah beberapa tahun lalu mencuat. Tetapi karena banyaknya pro dan kontra membuat rencana tersebut tertunda. Namun saat ini nampaknya isu tersebut bukan sekedar isu belaka. Walikota Semarang. Sukawi Surtarip benar-benar akan membongkar salah satu pasar tradisional terbesar di Asia itu.

Padahal jika hanya untuk alasan rob yang sering mengganggu pasar ini, tidak perlu sampai harus membongkar bangunan. Banyak strategi yang bisa dilakukan oleh arsitek untuk menjawab permasalahan tersebut. Salah satu contoh yang telah ada adalah perbaikan yang dilaksanakan atas Gedung Arsip Nasional yang juga pernah terendam air. saat ini masalah di Gedung Arsip itu sudah terpecahkan tanpa harus membongkar bangunan tersebut.

Menurut Pakar arsitektur kota Prof. Eko Budihardjo, yang sekaligus Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang, alasan walikota untuk membongkar pasar tersebut adalah kesemrawutan dan rob air laut, yang memang menjadi masalah tahunan Kota Semarang. Berdasarkan alasan pengembangan kota, pasar yang sudah mulai usang itu akan dijadikan mal Johar Baru. Bagaimana dengan nasib kurang lebih 3000 pedagang yang setiap harinya mengais rejeki di pasar tersebut?

Alasan mempertahankan pasar ini bukan hanya sekedar romantisme belaka. Selain sisi arsitektural, bangunan ini juga menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak warga Semarang dan sekitarnya. Secara arsitektur, bangunan ini memang menarik. Adanya kolom-kolom cendawan yang menopang sekaligus menjadi struktur utama bangunan ini, pernah menjadikan bangunan ini sebagai pasar termegah di Asia Tenggara. Sayangnya tidak banyak orang yang memahami sejarah itu sehingga dengan alasan perkembangan kota dengan gampang ingin menggusurnya.

22 Oktober 2007

bangunan penyebab utama global warming

Arsitektur memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global atau yang akrab di telinga kita dengan istilah gobal warming. Data dari ASEAN Center for Energy (ACE) 48% pemanasan global dihasilkan oleh bangunan. Saat pembangunan gedung terutama gedung bertingkat, banyak sekali dilepaskan gas Carbon Monoksida (CO) ke udara, apalagi bangunan yang mengaplikasikan sistem struktur beton.

Setelah bangunan berdiri, konsumsi listriknya juga membutuhkan banyak sekali energi, terlebih saat ini hampir tidak ada bangunan bertingkat yang tidak menggunakan AC. Belum lagi tampang gedung bertingkat saat ini yang marak menggunakan kaca untuk tampilan luarnya. Sebagaimana yang kita ketahui, kaca justru akan mamantulkan kembali panas matahari yang diterima. Belum lagi gedung-gedung bertingkat yang membutuhkan penerangan maksimal, dengan menyalakan lampu sejak pagi.

Maraknya pembangunan juga menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau sebagai sumber penyerap gas carbon dioksida. Padahal sebatang pohon bisa menyerap 1 ton CO2 selama hidupnya. Bisa dibayangkan berapa ribu ton yang bisa diserap dalam 100 meter persegi lahan.

Saat ini di dunia sedang digalakkan pembangunan yang hemat energi. Bahkan di Amerika Serikat, arsitek yang merancang bangunan harus melalui uji kelayakan hemat energi untuk setiap karyanya. Bahkan untuk karya arsitektur tertentu harus memenuhi kriteria sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan.

Banyak yang bisa dilakukan oleh para perancang bangunan untuk menghemat enrgi. Salah satunya adalah dengan memilih lamu yang hemat energi. Lampu TL bisa
menghemat pengeluaran 150 pound gas karbon dioksida per tahun, dibanding lampu pijar. Perancangan bangunan dengan memanfaatkan alam dan iklim yang ada, seperti contoh, di Indonesia yang hampir memperoleh sinar matahari sepanjang tahun, bisa menggunakannya sebagai pengganti penerangan di siang hari.

Menjaga bumi tempat kita tinggal agar tetap lestari memang harus kita mulai dari sekarang, dari diri sendiri. Kalo tidak entah berapa generasi lagi kita bisa melihat bumi ini tetap indah.