Berbicara tentang bangunan tua memang tidak akan pernah selesai. Tema ini selalu memunculkan polemik dari berbagai kalangan. Merawat bangunan-bangunan tersebut sebagai warisan bangsa bukan perkara mudah apalagi murah, bahkan seringkalai memakan waktu lama.
Tak sedikit usaha yang telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Hasilnya, sampai saat ini kita masih bisa menemukan beberapa bangunan tua berdiri indah di sekitar kita. Meski karena banyaknya masalah, tak jarang keputusan tak bertanggungjawab diambil, untuk merobohkan bangunan yang banyak mengandung nilai sejarah perkembangan sebuah kota tersebut.
Salah satu kasus pembongkaran yang terjadi, menimpa Pasar Johar Semarang, karya arsitektur masterpiece dari Thomas Karsten, salah satu arsitek terkenal Belanda selain Mclaine Pont. Isu tentang pembongkaran pasar terbesar di Kota Semarang ini sebenarnya sudah beberapa tahun lalu mencuat. Tetapi karena banyaknya pro dan kontra membuat rencana tersebut tertunda. Namun saat ini nampaknya isu tersebut bukan sekedar isu belaka. Walikota Semarang. Sukawi Surtarip benar-benar akan membongkar salah satu pasar tradisional terbesar di Asia itu.
Padahal jika hanya untuk alasan rob yang sering mengganggu pasar ini, tidak perlu sampai harus membongkar bangunan. Banyak strategi yang bisa dilakukan oleh arsitek untuk menjawab permasalahan tersebut. Salah satu contoh yang telah ada adalah perbaikan yang dilaksanakan atas Gedung Arsip Nasional yang juga pernah terendam air. saat ini masalah di Gedung Arsip itu sudah terpecahkan tanpa harus membongkar bangunan tersebut.
Menurut Pakar arsitektur kota Prof. Eko Budihardjo, yang sekaligus Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang, alasan walikota untuk membongkar pasar tersebut adalah kesemrawutan dan rob air laut, yang memang menjadi masalah tahunan Kota Semarang. Berdasarkan alasan pengembangan kota, pasar yang sudah mulai usang itu akan dijadikan mal Johar Baru. Bagaimana dengan nasib kurang lebih 3000 pedagang yang setiap harinya mengais rejeki di pasar tersebut?
Alasan mempertahankan pasar ini bukan hanya sekedar romantisme belaka. Selain sisi arsitektural, bangunan ini juga menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak warga Semarang dan sekitarnya. Secara arsitektur, bangunan ini memang menarik. Adanya kolom-kolom cendawan yang menopang sekaligus menjadi struktur utama bangunan ini, pernah menjadikan bangunan ini sebagai pasar termegah di Asia Tenggara. Sayangnya tidak banyak orang yang memahami sejarah itu sehingga dengan alasan perkembangan kota dengan gampang ingin menggusurnya.